Pulau 1000; Indahnya Alam Laut Kota Jakarta Part II (Hari Pertama)

Setelah speed boat yang kami tumpangi membelah  lautan jakarta menuju kepulauan seribu sekitar satu setengan jam, alam indah kepulauan seribu mulai menunjukan pesona nya, pantai kotor tepian jakarta berubah menjadi alam laut nan indah dengan keasliannya, air kotor pantai jakarta telah salin rupa menjadi air laut yang bening dan jernih sejernih2x nya. Hilang sudah segala kekhawatiran  berganti keinginan segera untuk menikmati indahnya alam kepulauan seribu, dengan berenang, snorkling atau sekedar jalan-jalan menikmati panorama alam yang masih perawan.

Oh iya sekedar flashback perjalanan kami sekarang selain liburan, juga niatan silaturahmi dengan orang yang sudah saya anggap orang tua angkat di Pulau Panggang. Sekitar 14 tahun lalu saya pernah mendapatkan tugas sekolah di pulau panggang dan pulau seribu sekitar 2 minggu, nah di tempat orang tua angkat ini lah kami ditampung sebagai anggota keluarga nya. Semoga perjalanan kali ini juga dapat merajut kembali tali silaturahim yang lama tak tersambung. Karena  itu ketika mulai terlihat daratan Pulau Pramuka terbayang  kembali kehangatan dan keramah tamahan para penduduk nya, ah cukup meninggalkan kesan masa itu dalam catatan perjalanan hidupku semoga semua belum berubah.

Pelan namun pasti makin jelas terlihat  Dermaga Pulau Pramuka, tetapi penduduk pulo lebih sering menyebutnya dengan Pulau Elang. Kapal yang kami tumpangi pun pelan-pelan sandar di dermaga. Ahaa..sungguh Pulau pramuka sudah berbeda jauh dari kondisinya 14 tahun yang lalu. Dulu dermaga ini sepi karena memang jarang terdapat perahu nelayan sandar di dermaga ini, lebih banyak perahu nelayan sandar di pulau panggang. Dulu pulau ini sebagai pusat kelurahan, tetapi sekarang menjadi kota Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.  Dulu hanya dapat ditemui penduduk pulau dan sangat sepi, tapi sekarang tampak hiruk pikuk dermaga dipenuhi juga oleh wisatwan lokal dan asing, begitu ramai. Oh ya pulau pramuka ini memiliki beberapa ke khasan yaitu air di pulau ini sama sekali tidak asin alias tawar, pohon-pohon di pulau ini juga tumbuh subur sehingga rindang pohon dan kesejukan udara dengan mudah dapat kita temui di pulau ini.

Setelah kapal yang kami tumpangi sandar, kami dijemput oleh Ibu A’Ing karena Bapak sedang antara tamu katanya. Yah aku masih cukup mengenali Ibu, dengan kekhasan raut muka dan nada bicara nya masih seperti dulu..Akhirnya kita berjumpa lagi setelah sekian lama tali silaturahim itu pudar. Ya ya ya ya ..pulau seribu sama sekali sudah berubah total, Pulau pramuka sekarang sudah penuh dengan penduduk, di sekitar dermaga ber jejer wisma dan home stay yang siap menjemput tamu. Rumah sakit Umum daerah berdiri megah tidak ketinggalan gedung kabupaten dan sekolah-sekolah berjejer rapi mengisi setiap kapling tanah pulau yang tidak terlalu luas. Jalanan konblok tertata rapi dihiasi pohon-pohon rindang berjejer di pinggir jalan. Ibu yang dipanggil “Nenek” oleh si kaka mengantar kami ke homestay tempat penginapan sementara kami.

Sepanjang  jalan menuju homestay tidak habis aku tanyakan bagaimana keadaan bapak, rohimah, een, taslimah anak-anaknya juga bagaimana kabar kawan-kawan ku disini ya’kub, halim, anita, khodijah, soleh dan lainnya sampai istilah dan kueh yang aneh seperti janda kecemplung (penganan khas pulau ini) tidak luput dari tanya ku..hahahaa..si ibu kaget juga aku masih inget banyak detail seputar pulau ini.

Home stay yang dipilihkan si Bapak untuk kami cukup jauh dari dermaga, alasannya adalah biar dekat dengan rumah anaknya “rohimah”, it’s oke lah agar si kaka ada temen mainnya supaya dia gak bosan.  Sekita sepuluh menit berjalan kami tiba di home stay pak Ya’kub yang sudah dipesan kan untuk kami, yah cukup lumayan satu kamar tidur dan satu kamar tamu yang cukup luas plus kamar mandi. Perlengkapan Home Stay, Kamar tidur dilengkapi AC, tempat tidur dan beberapa kasur busa jadi tidak perlu ekstra bed jika anda membawa tambahan anggota keluarga, Ruang tamu  cukup luas dilengkapi kipas angin dan Televisi..sepertinya sengaja tidak diletakan kursi tamu agar jika penyewa dalam jumlah banyak ruang tamu dapat digunakan sebagai ruang tidur juga. Tapi memang semua peralatan elektronik hanya dapat digunakan mulai jam 5 sore sampai jam 7 pagi, karena listrik di pulau ini mengandalkan tenaga diesel yang beroperasi dari jam 5 sore sampai jam 7 pagi. Memang ada beberpa pulau yang sudah menggunakan kabel bawah laut seperti pulau tidung, untung jawa dan beberapa lainnya. Sewa Home stay per malam Rp. 350.000.

Setelah istrirahat dan meletakan semua barang bawaan, Pak A’ing sempet datang sebentar dan jalan lagi untuk mengantar tamu katanya, tapi dia janji besok hari minggu dia akan menemani kita katanya, semua order akan di cancel..duhhh baik nya orang ini dari dulu gak berubah. Aku, Kaka dan bunda diantar Si Nenek ke pantai, karena si kaka sudah tidak sabar ingin berenang dipantai.

Jarak pantai dari home stay kami tidak terlalu jauh hanya sekitar dua kali lemparan batu anak dewasa, memang pantai nya tidak terlalu luas untuk berenang dan bermain tapi cukuplah sekedar menghilangkan penasaran si kaka. Air pantai sangat bening, pasir putih dan nyaris tidak ada ombak. Aku menemani si kaka berenang sambil mencari-cari siapa tahu ada bintang laut yang terdampar, karena biasanya selain mencari kelomang kami juga mencari bintang laut yang biasa nya banyak terdapat di sekitar pantai.

Bunda dan Si Nenek hanya mengobrol sambil memperhatikan kami bercanda di pantai, entah apa yang dibicarakannya. Tidak beberapa lama kami mendapatkan bintang laut warna biru yang cukup besar, si Kaka cukup senang, ini pengalaman pertama bagi dia mendapatkan bintang laut asli dan hidup. “Patrick” begitu dia memanggilnya, sahabat spongebob dalam serial kartun di tivi. Tapi alangkah senang nya aku ketika si Kaka bilang “Ayah, patrick nya dilepaskan saja yah dia kan juga mau hidup”, Subhanallah anak ku ternyata cukup pintar. Setelah bermain dengan si patrick beberapa saat, akhirna patrick pun di lepaskan. Selain bermain dengan patrick kami pun melihat-lihat pohonan bakau yang sengaja ditanam disekitar pantai, si Kaka menyebutnya mangroop, entah tepat atau tidak istilah ini aku juga kurang begitu pasti.

Setelah bermain-main di pantai dan diselingi ambekan sikaka kami melanjutkan ke spot selanjutnya, yaitu resto diatas laut dan sekaligus keramba terbesar di pulau seribu ini. Untuk menuju kesana kami menumpang ojek laut. Oh ya sebagai sarana transportasi antar pulau masyarakat disini menggunakan sarana ojek laut, yaitu kapal motor kecil dengan ongkos 3000 rupiah per orang. Tidak membutuhkan waktu lama kami sampai di keramba, Subhanallah lagi-lagi keindahan lain terpampang di depan kami. Ternyata keramba bukan hanya berisi ikan budidaya seperti ikan kerapu, bandang, berbagai ikan hias juga berisi ikan hiu jinak dan ikan-ikan besar lainnya. Untuk kesekian kali nya raut wajah gembira terpancar dari muka bunda, kaka dan aku sendiri mengagumi keindahan beragam ikan laut. Setelah melakukan pemesanan menu makan siang kami berjalan-jalan di seputar keramba… jika ke pulau seribu anda harus mampir di keramba ini, selain sekedar untuk makan  juga dapat melihat-lihat beragam ikan yang cukup menarik bahkan jika kantong anda cukup tebal dapat juga menyewa jetski di keramba ini. Makanan disini cukup enak selain tempatnya juga sangat nyaman. Model pembayaran nya pun bisa menggunakan Kartu debit dan Credit Card, jadi jangan takut kehabisan uang cash.

Tanpa ingin membuang-buang waktu setlah dari keramba, tujuan selanjutnya ada penangkaran penyu sisik yang terdapat di pulau pramuka. Kembali kami menumpang ojek untuk kembali ke pulau pramuka. Dari dermaga kami berjalan kaki menuju ujung pulau pramuka untuk melihat tempat penangkaran penyu sisik, dengan sabar si Nenek mengantar kami. Sekitar 10 menit perjalanan dengan berjalan kaki dari dermaga kami sampai di tempat penangkaran penyu sisik, lagi-lagi si Kaka begitu bergembira melihat penyu-penyu sisik kecil dan besar di bak-bak yang tertata dengan rapi. Oh ya tempat penangkaran ini sudah mendapat banyak penghargaan selain nasional juga internasional. Tidak kurang dari setiap presiden dari mulai suharto sampai SBY memberikan penghargaan kepada Pak Salim sebagai pengelola penangkaran Penyu Sisik. Sayang nya hasrat si Kaka untuk dapat melepaskan penyu ke laut lepas tidak dapat terpenuhi karena baru saja hari jum’at kemarin dilepaskan. Jadi yah..sekedar melihat-lihat ratusan penyu sisik kecil-kecil dan yang sedang dalam masa rehabilitasi, tapi cukup membuat kami senang kok.

Selesai melihat penangkaran penyu sisik kami kembali menyusuri pantai untuk kembali ke homestay, untuk sekedar istirahat, Sholat dan kalau memungkinkan sejenak tidur.

Sayang sore hari sampai malam cuaca hujan, jadi kami tidak dapat menikmati sunset di dermaga. Dari maghrib sampai malam kami hanya ngobrol dengan Ibu, Bapak, Rohimah dan suaminya, sekedar melepas kangen dan cerita apa saja yang sudah terjadi selama satu dekade terlewat. Dari obrolan-obrolan tersebut juga kami rencanakan acara untuk esok hari yaitu kami akan sama-sama ke Pulau tidung melihat dermaga cinta dan jembatan cinta kemudian berenang di pulau semak daun dan ke pulau panggang…hehee  saya pikir cerita sampai sini dulu..besok kita lanjut..

  1. Nice post. I was checking constantly this blog and I’m impressed!

    Extremely helpful information particularly the
    remaining part🙂 I care for such info much. I was looking for this particular
    info for a very lengthy time. Thanks and best of luck.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: